Alert! Kasus Covid-19 Indonesia Meledak Pasca Libur Lebaran

Kasus Covid-19 di Indonesia melonjak 53,8% dalam sepekan atau sepekan setelah libur Lebaran. Namun, kasus kematian tetap dalam tren penurunan.

Jumlah kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir ( 10-16 Mei 2022) mencapai 2.273. Jumlah tersebut melonjak 53,9% dibandingkan pada pekan sebelumnya (3-9 Mei 2022) yang tercatat sebanyak 1.477.

Kendati meningkat, kasus Covid-19 pada sepekan terakhir masih jauh lebih rendah 34,6% dibandingkan sepekan sebelum libur cuti bersama (22-28 April 2022). Pada pekan tersebut, Indonesia melaporkan kasus baru sebanyak 3.477.

Kasus kematian tercatat 68 jiwa, menurun 37,6% dari pekan sebelumnya. Namun, rata-rata positivity rate meningkat dalam sepekan menjadi 0,36% dari pekan sebelumnya 0,33%.

Pada Senin (16//5/2022), Indonesia melaporkan tambahan kasus sebanyak 182, turun 99,7% dibandingkan pada puncak Covid-19 gelombang III pada 16 Februari lalu di mana kasus menembus 64.718.

Jumlah orang diperiksa tes Covid-19 pada sepekan terakhir juga meningkat menjadi 632.930 orang dari 464.558 orang pekan sebelumnya https://www.rs-import.com/.

Dicky Budiman, Peneliti Global Health Security Griffith University Australia, memperkirakan kasus Covid-19 yang terjadi sepekan terakhir bisa jadi lebih tinggi daripada yang dilaporkan. Namun, karena tingkat kesakitan serta jumlah yang dites tidak banyak maka kasus yang dilaporkan lebih sedikit.

“Kalau melihat mobilitas yang besar tentu potensi kenaikan jelas ada. Namun, tentu saja sekarang walaupun sakit maka tidak parah karena sudah punya imunitas. Kalau dites yah sebenarnya kasus akan meningkat,” tutur Dicky kepada wartawan.

Sebagai catatan, Indonesia memiliki catatan buruk dalam terkait perkembangan Covid-19 setelah libur panjang, seperti Hari Raya Idul Fitri.

Contohnya, libur panjang Lebaran 2021 di mana Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 12 Mei 2021. Pada akhir Mei, tambahan kasus harian masih tercatat 5.000-6.000. Kasus Covid-19 melonjak tajam bahkan tidak terkontrol hingga menembus 54 ribu kasus lebih pada Juli 2021. Puncak gelombang II terjadi pada 15 Juli 2021 di mana kasus menembus 56.757.

Sebagai catatan, pada libur Lebaran tahun lalu hampir sebagian besar masyarakat belum divaksin. Program vaksinasi untuk masyarakat umum baru dimulai Juni 2021.

Hal ini berbanding terbalik dengan libur bersama Lebaran tahun ini yang ditetapkan pada 29 April hingga 6 Mei 2022.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sebelum libur cuti bersama Lebaran pada 28 April 2022, penerima vaksin dosis lengkap mencapai 164,66 juta atau 79% dari target. Jumlah penerima booster mencapai 37,46 juta atau 18% dari target.

Dicky mengingatkan selain libur panjang, Indonesia juga memiliki siklus kasus tinggi empat bulanan. Merujuk pada siklus tersebut, kasus tinggi bisa kembali terulang pada Juni mendatang. Karena itulah, masyarakat dan pemerintah diminta tetap waspada untuk menghindari lonjakan kasus bulan depan.

“Ada faktor empat bulanan di Juni. Kita harus sabar menunggu (untuk mengetahui krisis berlalu). Memang sekarang akses layanan kesehatan lebih baik, obat-obatan juga. Juga ada vaksinasi. Memang belum ideal tapi sudah membaik,”ujarnya.

Mobilitas masyarakat tercatat sangat tinggi selama dan setelah Lebaran. Tingginya mobilitas terjadi karena banyaknya masyarakat yang bepergian tempat saudara, tempat makan, tempat wisata, hingga bepergian kembali ke Jakarta.

Data Kereta Api Indonesia (KAI), sepanjang masa angkutan Lebaran hingga Jumat (13/5/2022), KAI Commuter melayani 11,57 juta penumpang.

Pandemi Covid-19 Akan Berubah Jadi Endemi, Ini Syaratnya

Sejumlah negara akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dan mengubah pandemi menjadi endemi. Lalu, kapan pandemi Covid-19 berubah menjadi endemi?

Singapura adalah salah satu negara yang siap hidup berdampingan dengan Covid-19 pada akhir Maret 2022 ini. Selain itu, Thailand juga juga menyiapkan perubahan dari pandemi menjadi endemi pada Juli 2022.

Pandemi virus corona yang melanda dunia telang berlangsung selama lebih dari dua tahun. Beberapa negara telah bersiap bertransisi dari pandemi Covid-19 ke situasi endemi, termasuk Indonesia.

Seperti diketahui, pergantian status dari pandemi ke endemi harus memenuhi sejumlah indikator. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban menjelaskan, salah satu indikator menuju endemi yakni penurunan kasus harian yang signifikan. “Jumlah kasus harian (di Indonesia) turun drastis, dari 23 Februari sebanyak 61.488 kasus, kemudian turun turun turun terus dalam 14 hari. Meskipun sempat mengalami kenaikan, tapi angka masih di bawah 10 ribu kasus dan kecenderungan turun,” ujar Zubairi saat dihubungi media, Kamis (24/3/2022).

Berdasarkan data yang diperoleh, berikut rangkuman kasus baru Covid-19 beberapa waktu terakhir:

  • Pada 23 Februari 2022 terdapat 61.488 kasus Covid-19
  • Pada 17 Maret 2022 terdapat 11.532 kasus Covid-19
  • Pada 18 Maret 2022 terdapat 9.528 kasus Covid-19
  • Pada 19 Maret 2022 terdapat 7.951 kasus Covid-19
  • Pada 20 Maret 2022 terdapat 5.922 kasus Covid-19
  • Pada 21 Maret 2022 terdapat 4.699 kasus Covid-19
  • Pada 22 Maret 2022 terdapat 7.464 kasus Covid-19
  • Pada 23 Maret 2022 terdapat 6.376 kasus Covid-19

Selain kasus baru, lanjut dia, positivity rate di Indonesia juga menunjukkan penurunan. Positivity rate juga menjadi salah satu indikator penting dalam proses transisi pandemi Covid-19 menuju endemi. “Tadinya Indonesia di atas 40 persen sekarang turun drastis. Jakarta juga 20 persen lebih, sekarang kurang dari 10 persen,” tuturnya.

Adapun angka bed occupancy rate (BOR) di sejumlah rumah sakit juga terus turun seperti di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Menurut Zubairi, berbeda dengan tahun lalu yang didominasi oleh strain Delta, varian Omicron yang merebak saat ini mempunyai karakteristik penularan cepat tapi masa inkubasinya lebih singkat.

Sementara itu, cakupan vaksinasi juga sudah cukup banyak, membuat peluang situasi endemi semakin terbuka. “Vaksinasi sudah cakupannya banyak, yang di bawah 60 tahun sudah 70 persen, 60 tahun lebih masih kurang, karena itu saya sampaikan beberapa bulan mendatang bisa dicapai 70 persen cakupan vaksin dua kali (dosis) di atas 60 tahun,” kata dia.

Pencapaian vaksinasi juga menjadi indikator penting dalam transisi pandemi Covid-19 menuju endemi.

Masih ada penularan dan kematian akibat Covid-19

Kendati begitu, Zubairi menegaskan bahwa endemi tidak mengartikan situasi yang bebas dari Covid-19, melainkan penyakit ini tetap ada. “Bukan berarti juga kita enggak berpikir tentang Covid-19 lagi. Penyakit ini tetap ada. Statis. Tak terlalu meningkat, tak terlalu turun, dan tak ada lonjakan besar yang tak terduga seperti tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, di situasi endemi, virus masih bisa menyebar dan menyebabkan kematian, meski tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. “Tidak akan bisa sekarang-sekarang ini (memberantas Covid-19 secara total). Tapi kita akan melihatnya keluar dari fase pandemi dan masuk ke fase endemi. Tidak lagi menjadi krisis dan lebih bisa terkelola,” paparnya.

Kapan endemi diperkirakan terjadi?

Zubairi menyampaikan, faktor yang berperan menuju endemi antara lain

  • Tingkat rawat inap dan kematian
  • Beban sistem kesehatan
  • Jumlah kasus baru
  • Positivity rate
  • Vaksinasi
  • Kebijakan pemerintah
  • Perilaku masyarakat
  • Pengobatan baru

Sementara itu, diharapkan sekitar tiga bulan lagi, Indonesia sudah berada di situasi endemi Covid-19. “Tidak akan lama lagi. Sekitar tiga bulan (endemi Covid-19 di Indonesia terjadi). Semoga saja saya bisa dengan tenang membaca berita Man City,” pungkas dia.

Sebagai tambahan informasi, melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), transisi endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, meliputi:

  • Laju penularan harus kurang dari 1 persen
  • Angka positivity rate harus kurang dari 5 persen
  • Tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen
  • Angka fatality rate atau kematian harus kurang dari 3 persen
  • Level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1

Kondisi – kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan. Adapun kondisi-kondisi tersebut harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan.