PeduliLindungi Cegah Jutaan Orang Terpapar COVID-19 di 2021-2022

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkap bahwa aplikasi PeduliLindungi telah melindungi jutaan orang terpapar COVID-19. Aplikasi itu mencegah warga terinfeksi ketika mereka mengakses fasilitas publik dan tempat umum.

“Aplikasi yang diluncurkan pada Maret 2020 ini sudah diunduh lebih dari 90 juta orang dan membantu dalam mencegah warga terinfeksi COVID-19 mengakses fasilitas publik dan tempat umum,” kata akun Instagram Kementerian Kominfo, dikutip Minggu (24/3/2022).

Sepanjang 2021-2022, PeduliLindungi telah mencegah 3.733.067 orang dengan status merah atau vaksinasi belum lengkap untuk memasuki ruang publik. Aplikasi itu juga mendeteksi 538.659 orang yang terinfeksi COVID-19 dengan status hitam ketika melakukan perjalanan domestik atau mengakses ruang publik tertutup.

Instagram Kementerian Kominfo juga mengutip pernyataan Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi. Menurutnya, aplikasi itu turut berkontribusi pada rendahnya penularan Covid-19 di Indonesia dibanding negara tetangga, dan bahkan negara maju.

“Aplikasi ini memiliki peran yang besar dalam menekan laju penularan saat kita mengalami gelombang Delta dan Omicron,” terang Siti.

Sebelumnya, Amerika Serikat menuding Pemerintah Indonesia melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) lewat pemaksaan penggunaan PeduliLindungi. Hal ini kemudian dibantah oleh Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Kominfo, Usman Kansong.

“Tidak ada kejadian yang diduga atau yang dituduhkan oleh Amerika Serikat itu. Bahkan Pedulilndungi ini untuk melindungi masyarakat, melindungi masyarakat supaya tidak terjangkit COVID-19,” kata Usman pada Senin kemarin.

Lebih rinci Usman mengatakan bahwa Aplikasi PeduliLindungi, yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan, mengelola data pribadi publik dengan aman. Tidak ada kebocoran maupun penyalahgunaan data pribadi warga jadi aman untuk cek bpjs kesehatan juga.

“Kalau memang ada penyalahgunaan atau kebocoran Kominfo pasti akan memanggil penyelenggara sistem elektronik untuk dimintai penjelasan kenapa sampai terjadi dan Kominfo bisa menjatuhkan sanksi bisa berupa teguran bisa teguran tertulis, sampai yang sangat berat itu kan penutupan,” ucap Usman.

Ini Alasan Bos Pfizer Warning Mereka yang Sudah Vaksin Penuh

Masyarakat yang sudah menerima vaksin dosis penuh dan penguat (booster) rupanya masih perlu mendapatkan suntikan keempat. Hal ini disampaikan CEO Pfizer Albert Bourla dalam wawancaranya dengan CBS beberapa waktu kemarin.

Bourla menyebut suntikan penguat dosis ketiga sebenarnya cukup baik untuk melawan risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama untuk melawan infeksi, sehingga perlu suntikan keempat untuk perlindungan penuh.

“Saat ini, seperti yang kita lihat, perlu booster keempat sekarang,” kata Bourla.

Bourla juga menegaskan komitmen perusahaannya menciptakan vaksin yang efektif melawan semua varian Covid-19 untuk jangka waktu yang lebih lama. Pfizer juga berusaha untuk membuat vaksin yang melindungi dari semua varian dan memberi perlindungan selama satu tahun.

“Dan jika kita dapat mencapai itu, maka saya pikir itu sangat mudah untuk diikuti dan diingat sehingga kita dapat kembali ke kehidupan yang benar-benar dulu,” tegasnya sambil melacak hp yang hilang

Saat ini, Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA AS) sudah menyetujui pemberian vaksin keempat pada masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Izin diterbitkan untuk vaksin Pfizer dan Moderna.

Izin ini keluar tak lama setelah penyebaran kasus sub-varian omicron BA.2 di AS. Selain pemberian dosis keempat, FDA juga memberikan persetujuan dosis kelima pada orang berusia tertentu dengan sistem kekebalan yang terganggu.

Masyarakat berusia 12 tahun ke atas dengan sistem kekebalan lemah bisa mendapatkan dosis kelima dengan Pfizer. Selain itu mereka berusia 18 tahun ke atas dengan kondisi serupa akan diberikan Moderna.

Di sisi lain, laporan media setempat -perusahaan analisis kesehatan berbasis di London- mengatakan hampir 19% orang China di atas usia 60 tahun tidak divaksinasi pada pertengahan Maret. Dengan ini, dapat dikatakan tingkat vaksinasi pada orang tua di China rendah.

Menurutnya, jika Omicron menyebar ke seluruh China, itu bisa menyebabkan 1 juta kematian dalam 3 bulan. Merujuk negara lain seperti Australia, Selandia Baru, dan Singapura, negeri-negeri itu bisa keluar dari strategi “nol Covid” setelah angka vaksinasi manula sangat tinggi, masing-masing hanya 1,2%, 0,6%, dan 0,4%.