Alih-Alih Disuntikkan, Vaksin COVID-19 Masa Depan Bisa Diberikan Melalui Hidung

Kasus COVID-19 yang masih menunjukkan peningkatan ditambah munculnya varian Omicron menandakan bahwa virus ini akan berada di tengah masyarakat dalam waktu lama.

Maka dari itu, di tahun-tahun mendatang, berbagai dosis vaksinasi kemungkinan akan tetap diperlukan untuk menguatkan komunitas global terhadap dampak negatif virus.

Terkait hal ini, peneliti bidang virologi di Queen’s University Belfast, UK, Connor Bamford melihat adanya potensi pengembangan vaksin COVID-19 di masa mendatang.

Menurutnya, secara khusus, para ilmuwan sedang mengerjakan vaksin yang mengaktifkan sistem kekebalan “mukosa” yang mungkin lebih mampu mencegah infeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

“Dan bukannya disuntik ke lengan Anda (vaksin intramuskular), vaksin ini bisa diberikan sebagai semprotan ke hidung Anda (vaksin intranasal),” katanya mengutip CNA, Jumat (27/5/2022).

Bamford kemudian menjelaskan latar belakang dari pengembangan vaksin ini. Menurutnya, SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sel-sel yang melapisi permukaan saluran pernapasan (biasa disebut sebagai selaput lendir) mulai dari hidung hingga paru-paru.

Tepat di permukaan ini, virus dapat merusak sel-sel dan memicu peradangan yang menyebabkan disfungsi lebih lanjut baik secara lokal maupun di seluruh tubuh.

Vaksin digunakan untuk mengurangi seberapa banyak virus dapat mereplikasi dan mengendalikan peradangan berikutnya, yang mungkin merupakan penyebab utama penyakit parah dan kematian akibat COVID-19.

Vaksin yang Sekarang

Vaksin saat ini bekerja dengan menghadirkan sedikit virus (protein lonjakan) sebagai apa yang dikenal sebagai “antigen” untuk sistem kekebalan di otot penerima vaksin.

Idenya, vaksin diberikan sebelum infeksi SARS-CoV-2 dan memungkinkan tubuh memproduksi antibodi antivirus. Ini dapat memblokir virus agar tidak masuk ke dalam sel, serta sel T, yang dapat membantu menyembuhkan sel-sel yang terinfeksi.

Meskipun awalnya diberikan ke otot di lengan, antigen vaksin menuju ke kelenjar getah bening terdekat. Ini adalah organ yang merangsang respons imun dalam darah dan cairan lain yang mengalir ke seluruh tubuh. Tapi apa yang sering kurang jelas setelah vaksinasi tradisional adalah respons pada jaringan mukosa seperti usus, paru-paru atau hidung.

Ini karena sistem kekebalan mukosa agak independen dari yang sistemik. Mengingat seberapa sering permukaan ini terkena infeksi atau rangsangan seperti debu dan polusi, jaringan mukosa memiliki sistem kekebalannya sendiri, terdiri dari antibodi khusus dan sel T.

Meskipun vaksin standar memberikan perlindungan mukosa, kadarnya tidak terlalu tinggi. Sedangkan, sistem kekebalan mukosa bisa dihadirkan secara langsung dengan antigen vaksin yang menggunakan metode seperti semprotan hidung. Ini memicu respons mukosa yang jauh lebih kuat.

Perlindungan Lebih Baik

Para ilmuwan sering berpikir bahwa memunculkan respons kekebalan di hidung, tenggorokan, dan saluran udara, di mana biasanya virus seperti SARS-CoV-2 awalnya masuk ke dalam tubuh dan tumbuh, dapat menghasilkan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan vaksin intramuskular. Vaksin dengan semprotan di hidung pada dasarnya menghentikan paparan virus di sumbernya.

Vaksin mukosa sebelumnya sudah digunakan secara luas pada anak-anak untuk patogen pernapasan lainnya seperti influenza.

Meskipun vaksin COVID-19 pertama yang lulus uji klinis tidak secara khusus menargetkan sistem kekebalan mukosa, sejumlah besar kandidat vaksin baru sedang dieksplorasi dalam uji pra-klinis dan klinis.

Ini termasuk rejimen intranasal yang dapat bekerja sama dengan vaksin standar COVID-19, tetapi juga yang dapat bekerja secara independen.

Dalam uji coba pada hewan, vaksin mukosa ini telah menunjukkan efek perlindungan. Pada tikus, para ilmuwan telah mengamati bahwa vaksin intranasal menginduksi tingkat perlindungan yang lebih tinggi terhadap infeksi dibandingkan dengan vaksin intramuskular.

“Namun, kami belum tahu apakah ini akan sama pada orang, meskipun beberapa hasil awal tampak menggembirakan dan beberapa kandidat telah maju ke uji coba fase 3 untuk kemanjuran.”

Manfaat Vaksin Intranasal

Jika terbukti bekerja dengan baik pada manusia, vaksin COVID-19 intranasal bisa memiliki beragam manfaat. Mereka bisa lebih mudah diberikan, terutama untuk orang-orang dengan fobia jarum.

Mereka juga dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap infeksi awal, penularan, terutama melindungi terhadap penyakit parah, seperti vaksin COVID-19 saat ini.

Jenis vaksin ini bisa sangat berguna bagi orang yang paling rentan terkena penyakit parah akibat COVID-19, serta mereka yang cenderung menyebarkan infeksi tetapi memiliki risiko kematian yang relatif rendah, seperti anak-anak dan remaja.

“Tetapi sebelum kita sampai pada titik ini, kita akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mendukung keamanan dan kemanjuran. Uji klinis baru yang menyelidiki seberapa baik vaksin ini mencegah infeksi harus relatif mudah dijalankan mengingat tingkat signifikan COVID-19 yang beredar saat ini.”

Hingga kini, inovator vaksin di seluruh dunia memiliki tantangan ini dalam pandangan mereka. Mereka sudah mengerjakan vaksin COVID-19 generasi berikutnya.

Setelah ratusan juta dosis, para inovator vaksin memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana kinerja vaksin saat ini dan di bagian mana saja vaksin COVID-19 dapat ditingkatkan.

Dengan semakin banyaknya data yang dikumpulkan, misalnya mengenai dosis yang dimodifikasi, waktu antar dosis, atau penggunaan vaksin yang berbeda maka akan semakin mudah para inovator melakukan inovasi.

Pandemi Covid-19 Akan Berubah Jadi Endemi, Ini Syaratnya

Sejumlah negara akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dan mengubah pandemi menjadi endemi. Lalu, kapan pandemi Covid-19 berubah menjadi endemi?

Singapura adalah salah satu negara yang siap hidup berdampingan dengan Covid-19 pada akhir Maret 2022 ini. Selain itu, Thailand juga juga menyiapkan perubahan dari pandemi menjadi endemi pada Juli 2022.

Pandemi virus corona yang melanda dunia telang berlangsung selama lebih dari dua tahun. Beberapa negara telah bersiap bertransisi dari pandemi Covid-19 ke situasi endemi, termasuk Indonesia.

Seperti diketahui, pergantian status dari pandemi ke endemi harus memenuhi sejumlah indikator. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban menjelaskan, salah satu indikator menuju endemi yakni penurunan kasus harian yang signifikan. “Jumlah kasus harian (di Indonesia) turun drastis, dari 23 Februari sebanyak 61.488 kasus, kemudian turun turun turun terus dalam 14 hari. Meskipun sempat mengalami kenaikan, tapi angka masih di bawah 10 ribu kasus dan kecenderungan turun,” ujar Zubairi saat dihubungi media, Kamis (24/3/2022).

Berdasarkan data yang diperoleh, berikut rangkuman kasus baru Covid-19 beberapa waktu terakhir:

  • Pada 23 Februari 2022 terdapat 61.488 kasus Covid-19
  • Pada 17 Maret 2022 terdapat 11.532 kasus Covid-19
  • Pada 18 Maret 2022 terdapat 9.528 kasus Covid-19
  • Pada 19 Maret 2022 terdapat 7.951 kasus Covid-19
  • Pada 20 Maret 2022 terdapat 5.922 kasus Covid-19
  • Pada 21 Maret 2022 terdapat 4.699 kasus Covid-19
  • Pada 22 Maret 2022 terdapat 7.464 kasus Covid-19
  • Pada 23 Maret 2022 terdapat 6.376 kasus Covid-19

Selain kasus baru, lanjut dia, positivity rate di Indonesia juga menunjukkan penurunan. Positivity rate juga menjadi salah satu indikator penting dalam proses transisi pandemi Covid-19 menuju endemi. “Tadinya Indonesia di atas 40 persen sekarang turun drastis. Jakarta juga 20 persen lebih, sekarang kurang dari 10 persen,” tuturnya.

Adapun angka bed occupancy rate (BOR) di sejumlah rumah sakit juga terus turun seperti di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Menurut Zubairi, berbeda dengan tahun lalu yang didominasi oleh strain Delta, varian Omicron yang merebak saat ini mempunyai karakteristik penularan cepat tapi masa inkubasinya lebih singkat.

Sementara itu, cakupan vaksinasi juga sudah cukup banyak, membuat peluang situasi endemi semakin terbuka. “Vaksinasi sudah cakupannya banyak, yang di bawah 60 tahun sudah 70 persen, 60 tahun lebih masih kurang, karena itu saya sampaikan beberapa bulan mendatang bisa dicapai 70 persen cakupan vaksin dua kali (dosis) di atas 60 tahun,” kata dia.

Pencapaian vaksinasi juga menjadi indikator penting dalam transisi pandemi Covid-19 menuju endemi.

Masih ada penularan dan kematian akibat Covid-19

Kendati begitu, Zubairi menegaskan bahwa endemi tidak mengartikan situasi yang bebas dari Covid-19, melainkan penyakit ini tetap ada. “Bukan berarti juga kita enggak berpikir tentang Covid-19 lagi. Penyakit ini tetap ada. Statis. Tak terlalu meningkat, tak terlalu turun, dan tak ada lonjakan besar yang tak terduga seperti tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, di situasi endemi, virus masih bisa menyebar dan menyebabkan kematian, meski tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. “Tidak akan bisa sekarang-sekarang ini (memberantas Covid-19 secara total). Tapi kita akan melihatnya keluar dari fase pandemi dan masuk ke fase endemi. Tidak lagi menjadi krisis dan lebih bisa terkelola,” paparnya.

Kapan endemi diperkirakan terjadi?

Zubairi menyampaikan, faktor yang berperan menuju endemi antara lain

  • Tingkat rawat inap dan kematian
  • Beban sistem kesehatan
  • Jumlah kasus baru
  • Positivity rate
  • Vaksinasi
  • Kebijakan pemerintah
  • Perilaku masyarakat
  • Pengobatan baru

Sementara itu, diharapkan sekitar tiga bulan lagi, Indonesia sudah berada di situasi endemi Covid-19. “Tidak akan lama lagi. Sekitar tiga bulan (endemi Covid-19 di Indonesia terjadi). Semoga saja saya bisa dengan tenang membaca berita Man City,” pungkas dia.

Sebagai tambahan informasi, melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), transisi endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, meliputi:

  • Laju penularan harus kurang dari 1 persen
  • Angka positivity rate harus kurang dari 5 persen
  • Tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen
  • Angka fatality rate atau kematian harus kurang dari 3 persen
  • Level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1

Kondisi – kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan. Adapun kondisi-kondisi tersebut harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan.